Skip to content

Customer Service

Ecowisata Heritage
Mojokerto, Jawa Timur

Follow us

Periode Sejarah

Pakis Trowulan Heritage

Prasejarah

Prasejarah

Perkiraan rentang waktu: Sebelum munculnya sumber tertulis hingga berkembangnya tradisi tulisan di berbagai wilayah Nusantara

Masa prasejarah, yang juga disebut masa praaksara, adalah masa ketika masyarakat belum meninggalkan catatan tertulis yang dapat digunakan untuk merekonstruksi kehidupannya. Istilah “prasejarah” tidak berarti manusia pada masa itu tidak memiliki sejarah. Mereka memiliki cara hidup, pengetahuan, hubungan sosial, kepercayaan, dan teknologi, tetapi kehidupan mereka diketahui terutama melalui bukti arkeologis seperti fosil, alat batu, tulang, sisa makanan, lukisan gua, serta bangunan megalitik. Awal dan akhir masa praaksara tidak sama di setiap wilayah karena kemampuan mengenal tulisan berkembang pada waktu yang berbeda.

Kepulauan Indonesia telah menjadi bagian penting dari sejarah manusia purba. Berbagai temuan fosil di Jawa, antara lain di Trinil, Sangiran, dan Mojokerto, memberikan bukti tentang keberadaan manusia purba dan perubahan lingkungan dalam rentang waktu yang sangat panjang. Eugène Dubois meneliti fosil di Trinil pada akhir abad ke-19 dan mengidentifikasi temuan yang kemudian dikenal sebagai Homo erectus. Situs Sangiran menyimpan banyak fosil dan artefak yang membantu peneliti mempelajari evolusi manusia serta lingkungan masa lampau. Temuan seperti ini perlu dipahami berdasarkan penelitian ilmiah, bukan sebagai bukti bahwa seluruh manusia modern berasal dari satu situs tertentu.

Pada masa berburu dan meramu, manusia memenuhi kebutuhan dengan memanfaatkan sumber daya alam. Mereka berburu hewan, menangkap ikan, mengumpulkan buah, umbi, kerang, dan tumbuhan yang dapat dimakan. Kelompok manusia sering berpindah mengikuti ketersediaan makanan, air, dan kondisi lingkungan. Mereka menggunakan alat dari batu, tulang, dan kayu. Pengetahuan tentang bahan alam, tempat berlindung, musim, serta cara bekerja sama menjadi bekal penting untuk bertahan hidup. Pola hidup berpindah-pindah tidak selalu berarti manusia tidak memiliki hubungan dengan suatu tempat; mereka dapat kembali ke wilayah tertentu ketika sumber daya tersedia.

Seiring waktu, sebagian masyarakat mulai mengembangkan pola hidup yang lebih menetap. Pada masa bercocok tanam, manusia menanam tanaman pangan dan memelihara hewan, sehingga kebutuhan hidup tidak hanya bergantung pada hasil berburu dan mengumpulkan makanan. Perubahan ini mendorong pertumbuhan permukiman, pembagian kerja, pertukaran barang, dan pengelolaan sumber daya. Peralatan batu diasah menjadi lebih halus dan sesuai untuk kegiatan tertentu. Namun, peralihan menuju pertanian tidak terjadi sekaligus di semua tempat. Berburu, meramu, menangkap ikan, dan bercocok tanam dapat berlangsung berdampingan sesuai keadaan lingkungan.

Pada masa berikutnya, masyarakat di beberapa wilayah mengembangkan teknologi pengolahan logam, termasuk perunggu dan besi. Peralatan logam dapat digunakan untuk menunjang pertanian, pertukangan, dan kegiatan ritual. Tradisi megalitik juga berkembang dalam bentuk bangunan atau benda batu besar, seperti menhir, dolmen, punden berundak, dan sarkofagus di sejumlah daerah. Benda-benda tersebut sering berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur dan praktik kepercayaan. Keberadaan peninggalan megalitik di beberapa daerah menunjukkan bahwa tradisi lama tidak selalu hilang ketika teknologi baru muncul.

Kehidupan prasejarah juga ditandai oleh perkembangan bahasa, pengetahuan lingkungan, seni, dan kepercayaan. Lukisan gua di kawasan tertentu di Indonesia menunjukkan bahwa manusia masa lampau memiliki kemampuan simbolik dan ekspresi visual. Hubungan antarkelompok membantu penyebaran pengetahuan, bahan baku, dan teknologi. Perdagangan awal tidak selalu berbentuk pasar seperti sekarang, melainkan dapat berupa pertukaran barang dan hubungan sosial antarkomunitas. Menjelang berkembangnya sumber tertulis, masyarakat Nusantara semakin terhubung dengan jaringan pelayaran dan perdagangan Asia yang kemudian turut memengaruhi munculnya kerajaan-kerajaan awal.

Poin penting

  • Masa praaksara dipelajari melalui fosil, artefak, situs hunian, lukisan gua, dan peninggalan megalitik karena sumber tertulis belum tersedia.
  • Trinil, Sangiran, dan Mojokerto merupakan lokasi penting dalam penelitian manusia purba di Indonesia.
  • Pola hidup berkembang dari berburu dan meramu menuju bercocok tanam serta permukiman yang lebih menetap, tetapi prosesnya berbeda di setiap daerah.
  • Perkembangan alat batu, logam, pertanian, seni, dan kepercayaan menunjukkan kemampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan.
  • Tradisi praaksara tidak langsung hilang ketika masyarakat mulai mengenal tulisan; sebagian praktik budaya tetap bertahan.
alamat
Desa Pakis, Kecamatan Trowulan,
Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur 61362